Halo teman-teman blogger, jika di tulisan sebelumnya saya menulis tentang Dari Dunia Maya Menjadi Dunia Nyata, maka kali ini saya akan menuliskan pengalaman berkeliling dunia selama satu tahun terakhir yang saya dapatkan karena menggunakan internet sebagai media untuk mencari kesempatan berkeliling dunia.
Ini dimulai dari pernyataan teman yang biasanya kita panggil Jenderal tetapi nama asli dia adalah Narendra a.k.a Narji. Dia mengatakan bahwa “Dunia ini datar, boy”.

Satu hal yang harus anda tahu dari Sang Jenderal, dia adalah seorang filsuf yang tidak mudah untuk dikalahkan pernyataannya. Saya berargumen, “Bukankah sudah ada pembuktian bahwa dari zaman dahulu kala, para pelayar berangkat dari titik A dan berlayar memutari bumi dan dia kembali lagi ke titik A. Itu bukti bahwa bumi itu bulat Jenderal, bukan datar.”
Tetap, yang namanya seorang filsuf gak mau dengar apapun celotehan kita, “Gak boy, tapi itu kan cerita orang, itu bisa aja di rekayasa. Pernah dengar tentang Manusia ke Bulan? Ada juga yang bilang kalau itu malahan di Gurun Nevada, bukan di Bulan ketika si Neil Amstrong menginjakkan kakinya. Trik itu dimana-mana boy. Kita harus membuktikan bahwa bumi itu memang bulat”.
Wah, sebuah kata yang sangat bijak dan juga penuh dengan tantangan, Sang Jenderal memang benar, kita harus membuktikan bahwa bumi itu memang bulat. Muncullah ide untuk mencari informasi dan kesempatan dari internet tentang acara-acara yang diadakan di belahan bumi lain.
“Kita harus membuktikan bahwa bumi itu memang bulat” menjadi sebuah kata ajaib dari Sang Jenderal. Pernahkah kita berpikir untuk membuktikan bahwa dunia itu memang bulat seperti yang dahulu pernah kita pelajari semenjak Sekolah Dasar? Ikuti cerita penulis dalam rangka membuktikan bahwa bumi itu memang bulat.
EROPA (3 Desember 2009 – 3 Januari 2010)
Untuk pertama kalinya, ini adalah perjalanan yang terlama yang penulis jalani. Penulis menghabiskan waktu selama 1 bulan di Benua Eropa, pastinya akan menjadi salah satu pengalaman yang tidak akan terlupakan dalam hidup penulis.
Melalui internet, Wilson Ang, Presiden ECO-Singapore yang sempat menjadi pemateri di acara Danamon Young Leaders Award 2009 (DYLA2009) mengabarkan bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan kesempatan menghadiri acara Konferensi Perubahan Iklim, COP15 di Kopenhagen, Denmark yang akan dilaksanakan pada bulan Desember 2009.
Wilson memberikan alamat internet tentang informasi tersebut yaitunya alamat website dan blog-nya European Young Forum or Youth Forum Jeunesse (YFJ) yang menyeleksi delegasi. Deadline pengumpulan berkas-berkas berupa CV, essay serta persyaratan lainnya adalah tanggal 5 November 2009 dan pengumumannya delegasi terpilih pada tanggal 10 November 2009. Penulis juga menjadi salah satu dari 5 besar calon delegasi yang akan mewakili ECO-Indonesia di acara ini.
Pada tanggal 10 November 2009 penulis mendapatkan email dari YFJ bahwa penulis terpilih sebagai salah satu dari 50 delegasi yang akan mewakili Global South Youth Delegation (GSYD) di acara COP15 di Kopenhagen, Denmark. Momen ini adalah momen senang sekaligus bingung, Pertama, dari Indonesia hanya terpilih 2 orang delegasi, satu lagi kuliah di UK dan bernama Dian Elvira Rosa, Kedua, dalam waktu hanya 3 minggu, penulis harus mengurus semua dokumen perjalanan seperti asuransi perjalanan, visa, tiket serta mencari tempat untuk menginap selama konferensi.
Mulailah otak ini berpikir satu persatu, pertama adalah mencari bantuan pendanaan. Proposal disebar ke calon donatur dan sponsor yang potensial dan kemudian menghubungi YFJ tentang tiket pesawat karena untuk apply Visa Denmark, kita harus menunjukkan bukti bayar tiket pesawat, hotel, asuransi dan surat undangan dari YFJ. Ini adalah masa-masa kritis, duit dikit dan kurang banyak untuk biaya sebanyak ini.
Dalam jangka 1 minggu, uang terkumpul bisa untuk biaya asuransi serta visa. YFJ telah membooking pesawat dan penulis menghubungi teman yang ada di Swedia, Jerman dan Polandia dan mereka menyuruh untuk mengunjungi mereka sebelum sebelum kembali ke Indonesia. Acara konferensi sendiri berlangsung dari tanggal 6-18 Desember 2009 dan penulis memutuskan untuk kembali ke Indonesia tanggal 3 Januari 2010.
Hal selanjutnya adalah mencari informasi lewat internet tentang hotel, penginapan, ataupun wisma yang harganya masuk di kantong. Menurut cerita teman, Kopenhagen adalah salah satu kota termahal di dunia. Mencoba menghubungi Marc Thevis, teman yang bekerja di Perusahaan Carlsberg (tetapi karena apartemen beliau kecil, tidak mungkin tinggal disana), mencari hotel (harganya sangatlah mahal yaitunya mencapai 7.5 juta rupiah untuk 2 minggu, bisa tekor juga) dan akhirnya Iben, teman yang sedang kuliah di Lund University, Swedia dan dahulunya bekerja di Bank Danamon dan menjadi penyelenggara DYLA 2009 mengabarkan bahwa penulis bisa tinggal di apartemen beliau di kota Malmö, Swedia. Malmö adalah sebuah kota di selatan Swedia dan terhubung dengan Kopenhagen melalui sebuah jembatan Öresund sepanjang 8km yang melintasi selat Öresund antara dua kota tersebut. Ibarat kata sejenis Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura.
KOPENHAGEN, DENMARK
Acara konferensi perubahan iklim dilaksanakan di kota Kopenhagen yang merupakan ibukota Denmark. Perjalanan dari Jakarta menuju Kopenhagen menghabiskan waktu selama 24 jam. Penulis menggunakan pesawat Lufthansa dan penulis transit terlebih dahulu di Singapura dan Frankfurt, Jerman sebelum berangkat menuju Kopenhagen.
Kopenhagen adalah ibukota dari Denmark dan merupakan kota terbesar di Denmark. Kopenhagen juga sebuah kota yang sangat bersih serta ramah lingkungan, berdasarkan indeks kota hijau di Eropa, Kopenhagen berada di peringkat pertama kota terhijau di Eropa dimana kualitas air di pelabuhan bisa dijadikan tempat untuk berenang dan 36% penduduknya menggunakan sepeda menuju kantor setiap harinya. Di Copenhagen, tempat parkir sepeda seperti tempat parkir motor, ada dimana-mana dan sepeda bisa dibawa ke dalam kereta api serta Metro (kereta cepat).
Beberapa tips tentang di Kopenhagen;
- Bersepedalah keliling kota Kopenhagen. Di pusat informasi turis tersedia peta jalur sepeda Kopenhagen serta tempat yang menarik untuk dikunjungi. Penulis pernah merasakan bersepeda di suhu -3°C dan sedikit gerimis. Begitu bersepeda, carilah kelompok pesepeda dan bergabunglah bersama mereka, bisa saja mereka adalah turis yang berkunjung ke Kopenhagen. Penulis bergabung bersama satu keluarga dari Belgia yang menikmati berkeliling Kopenhagen dan kami mengunjungi patung Little Mermaid yang terkenal dan menjadi simbol kota Kopenhagen.
- Jangan pernah me-rupiah kan harga. Kopenhagen terkenal sebagai salah satu kota yang termahal di negara Skandinavia. Setidaknya sekali makan menghabiskan 50 krone atau sekitar 100 ribu rupiah. Dalam sehari rata-rata penulis menghabiskan 400 ribu rupiah termasuk biaya lain diluar makan.
- Hmm.. Ada restoran Indonesia tetapi harganya sangatlah mahal. Kak Inggried, teman penulis yang menjadi wartawan di Kompas Online pernah mencoba makan di Restoran Bali di daerah Nyhavn. Menu makanan disini berkisar dari 100 krone atau sekitar 200 ribu rupiah.
- Satu tiket untuk semua moda transportasi. Kalau kita membeli tiket transportasi umum, di Kopenhagen semuanya dibagi per zona. Istilah kata per wilayah tujuan, dan tiket berlaku untuk semua angkutan umum yang tersedia seperti kereta, kereta cepat (metro) serta bus kota.
- Karena tinggal di Malmö selama acara konferensi, penulis membeli tiket bulanan untuk zona Malmö dan Kopenhagen seharga 1,625 krona atau sekitar 2.5 juta rupiah.
- Hapalkan kata exit dalam bahasa Denmark yaitunya “Udgang”. Ini sangat dibutuhkan terutama ketika keluar dari stasiun Metro dimana terdapat 4 lantai di bawah tanah di stasiun Nørreport.
- Minggu adalah hari libur dan jangan berharap toko-toko buka di hari Minggu. Jika di Indonesia hari minggu adalah waktu yang tepat untuk berbelanja, maka hal ini tidak berlaku di Kopenhagen.
- Jika tidak tahu arah menuju suatu lokasi, gunakanlah internet dengan bantuan aplikasi Google Maps yang akan menunjukkan lokasi tujuan beserta nomor bangunannya. Jika di Indonesia aplikasi Google Maps baru mengenali nama Jalan saja, di Kopenhagen kita bisa tahu alamat dengan nomor secara lengkap.
MALMÖ, SWEDIA
Bisa dikatakan bahwa penulis menghabiskan waktu yang paling banyak selama di Eropa di Malmö, ada beberapa poin yang penulis catat tentang kota ini;
- Terdapat 7 jenis tempat sampah di apartemennya Iben, tempat penulis tinggal. Botol plastik, botol kaca, kertas, sampah elektronik, aluminium, sampah organik, dan sampah selain yang termasuk ke dalam klasifikasi di atas.
- Cobalah jalan kaki selama 2 jam dengan suhu -5°C pada tanggal 24 Desember. Ini bukan lah disengaja untuk berjalan kaki tetapi ini terpaksa penulis lakukan karena ternyata, setelah jam 3 sore, semua transportasi umum di Kota Malmö tidak beroperasi dalam rangka persiapan Hari Natal. Memang ada taksi, tetapi pastinya lebih mahal dan penulis juga ingin menikmati indahnya kota Malmö. Berjalan kaki dari arah pantai menuju apartemen, suhu -5°C adalah suatu pengalaman yang tiada duanya.
- Habiskan sore dengan mengunjungi pusat kota sambil menikmati segelas Cappucino. Ketika musim dingin datang, maka jam 4 sore sudah membuat kota Malmö seperti jam 7 malam di Bandung. Sangat begitu gelap dan dingin pastinya, menghabiskan sore dan menghabiskan waktu sambil berbincang-bincang dengan Iben, Kak Devin (Iben’s wife) dan Billy (Iben’s friend from Greek) membuat sore itu terasa lebih hidup.
- Satu tiket untuk semua. Jika Anda menggunakan kereta api dari Kopenhagen menuju Malmö, maka Anda tidak perlu membeli tiket bus, karena tiket kereta api bisa dipakai di semua bus kota.
- Jangan pulang lewat dari jam 11 malam dari Kopenhagen, karena begitu tiba di Malmö bus kota yang beroperasi hanya setiap 1 jam sekali. Lebih baik tinggal di Kopenhagen daripada kedinginan menunggu bus.
- Bawa plastik sendiri ke supermarket atau harus membayar sebanyak 5 Krona (6 ribu rupiah) untuk sebuah kantong plastik berukuran gede.
- Jika tidak bisa bahasa Swedia, carilah restoran dengan menu berbahasa Inggris, penulis pernah membeli makanan di salah satu restoran di kota Malmö dan tidak ada menu dalam bahasa Inggris dan pramusaji nya juga tidak bisa berbahasa Inggris, pada akhirnya menu yang penulis pesan ternyata mengandung B2.
- Gunakan internet untuk melihat jam buka toko-toko atau mal karena jangan sampai Anda menghabiskan waktu untuk mencari toko-toko yang buka di hari minggu.
BERLIN, JERMAN
Penulis menghabiskan sisa seminggu di Eropa dengan berkunjung ke Berlin dan Warsawa (27 Desember 2009 – 2 Januari 2010). Penulis mengunjungi teman yang dahulu pernah kuliah di Unpad yaitunya Madeleine Lee (Madi) di Berlin serta Waldemar Sieniewaski (Waldek) di Warsawa. Rute perjalanan adalah Malmö-Kopenhagen-Berlin-Warsawa-Malmö, penulis mencoba mengkombinasikan tiga moda transportasi yaitunya kereta api (Malmö-Kopenhagen), bus Eurolines (Kopenhagen-Berlin-Warsawa) dan pesawat terbang berbiaya murah, WizzAir (Warsawa-Malmö). Hal ini dilakukan setelah mencari semua opsi di internet serta dengan pertimbangan bahwa pada tanggal 3 Januari 2010 penulis akan terbang ke Indonesia dari Kopenhagen. Koper ditinggalkan di Malmö dan berangkatlah penulis menuju Jerman dan Polandia.
Tidak ada yang lebih putih dibandingkan ketika penulis menikmati pemandangan salju yang menutupi setiap inci jalan yang dilalui. Memang dunia ini akan lebih indah ketika begitu banyak warna saling mengisi setiap sudut dunia. Penulis menjadi terbiasa ketika supir bus mengumumkan sesuatu dalam bahasa Denmark dan bisa dikatakan penulis tidak mengerti sama sekali kecuali ketika sang sopir mengucapkan kata penutup “Tak” yang berarti Terima Kasih.
Penulis menghabiskan 3 hari di Berlin dan Madi menjadi tour guide dengan berkunjung ke tempat tujuan wisata seperti Bradenburger Tor, Holocaust Memorial (kunjungi tempat ini di malam hari dan akan terbayangkan rasanya ketika dahulunya dilakukan pembunuhan kaum Yahudi oleh Nazi), menikmati Apple Pie di Potsdamer Platz, membeli oleh-oleh di Gendarmenmarkt (pasar musim dingin), ditraktir oleh Om Matius Jusuf (tinggal di Berlin semenjak tahun 70an) makan rendang di Restoran Mabuhay, restoran Indonesia-Filipina yang dikelola oleh Rudy dan Om Ari, bercengkrama dengan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Berlin, berkunjung ke Reichstag (gedung DPRnya Jerman), bermain bowling di daerah Nollendorfplatz bersama Fernando, Natascha, Madi dan beberapa teman Natascha, pulang larut malam tanpa takut akan kegelapan karena moda transportasi di Berlin tersedia selama 24 jam nonstop. Kota Berlin terasa lebih hidup dibandingkan dengan Malmö dan Kopenhagen dimana setelah jam 5 sore, toko-toko kebanyakan sudah tutup.
Karena penulis pernah belajar bahasa Jerman selama setahun membuat penulis sedikit mengerti akan pembicaraan orang Jerman ketika penulis makan bersama mereka di Restoran Mabuhay.
WARSAWA, POLANDIA
Setelah menghabiskan 3 hari di Berlin, penulis berangkat menuju Warsawa dengan menggunakan van dari daerah Kurfursterdam menuju luar kota Berlin dimana bus telah menunggu. Hujan salju menemani keberangkatan menuju Warsawa dan ketika tiba di tempat bus, penulis hampir salah naik bus yang tujuannya bukan ke Warsawa. (Untungnya..) Penulis duduk di deretan 2 kursi dari belakang dan di kursi sebelah sepasang suami istri dan seekor anjingnya yang duduk manis di kursi bus. Suatu hal yang biasa di Eropa dimana binatang piaraan seperti anjing diperbolehkan naik moda transportasi dan tidak perlu membayar.
Keesokan harinya ketika matahari bersinar, penulis bisa mengenali bahwa bus baru sampai di daerah Poznan, Polandia yang sebelumnya merupakan tempat diadakannya COP14 (2008) setelah COP13 di Bali pada tahun 2007. Arsitektur kota yang terlihat tua tetapi kokoh dengan jalur tram disepanjang jalur yang dilewati bus serta salju yang memenuhi sisi jalan sepanjang mata memandang.
Begitu tiba di Warsawa, Waldek telah menunggu dan langsung berangkat ke apartemen dia. Sarapan pagi ala orang Polandia dan Karolina (istri Waldek) memberikan saran untuk mencoba keju khas Polandia. Penasaran juga dengan keju nya karena bentuknya yang aneh serta agak keras dan setelah dicoba ternyata kejunya sangat asin sekali.
Agenda hari ini adalah berkeliling kota Warsawa dan menikmati malam tahun baru bersama teman-teman Waldek. Kota Warsaw bagi penulis adalah salah satu kota yang dengan sejarah yang begitu panjang, kota ini penuh dengan sejarah serta bangunan-bangunan tua yang tetap berdiri dan masih tetap dihuni oleh penduduknya. Ini membuktikan kokohnya bangunan tersebut. Waldek mengantar penulis jalan-jalan ke daerah timur kota Warsaw dimana daerah itu termasuk daerah lama atau kalau digambarkan seperti kota Tua Jakarta dengan peninggalan zaman perang Dunia serta perang dengan Rusia, kemudian penulis juga melewati stadion sepak bola yang disiapkan untuk menggelar Piala Euro tahun 2012 dan tour hari ini berakhir di pusat kota dimana kami melewati taman kota dimana dua orang prajurit selalu setia menjaga sebuah monumen di taman dan api yang selalu menyala. Berjalan menuju restoran di sebelah benteng dan juga patung The Warsaw Mermaid yang menjadi simbol kota Warsawa. Patung ini dibuattahun 1885.
Akhir tahun ditutup dengan menonton film di salah satu bioskop di kota Warsawa, Waldek bersama teman-temannya telah membuat rencana ini dan berhubung malam itu juga sedang turun salju dan suhu mencapai -9°C, penulis akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Penulis sama sekali tidak pernah belajar bahasa Polandia dan tidak mengerti sama sekali bahasa Polandia kecuali “Kantor” yang berarti tempat penukaran uang. Malam tanggal 31 Desember ini, ternyata film yang diputar adalah salah satu film asli Polandia dan berbahasa Polandia dan tidak ada terjemahannya. Penulis hanya terpaku melihat gambar saja karena tidak mengerti sama sekali. Berulang kali Waldek menterjemahkannya kepada penulis tentang apa yang terjadi di film tersebut. Acara tahun baruan ditutup dengan menonton film Sherlock Holmes dan door prize dari panitia penyelenggara dan Karolina mendapatkan buku The Secrets.
Tanggal 1 Januari 2010, penulis kembali ke Malmö setelah menghabiskan satu minggu di Berlin dan Warsawa. Pada tanggal 3 Januari 2010, penulis kembali ke Indonesia setelah menghabiskan 4 minggu di Eropa. Pengalaman ini adalah salah satu pengalaman terbaik yang penulis dapatkan ketika penulis masih berstatus sebagai mahasiswa. Empat minggu, empat negara, empat mata uang serta empat bahasa.
Denmark dengan bahasa Denmark dan Krone sebagai mata uang, Swedia dengan Bahasa Swedia dan Krona sebagai mata uang, Jerman dengan Bahasa Jerman dan Euro sebagai mata uangnya serta Polandia dengan Bahasa Polandia serta Złoty sebagai mata uangnya.
Pada akhirnya pembuktian bahwa bumi ini bulat bisa dirasakan dengan adanya perbedaan waktu antara satu daerah dengan daerah lainnya. Karena ketika matahari menyinari bumi, maka sisi lain dari bumi akan berada di dalam keadaan gelap (malam). Beda waktu antara 4 negara di atas dengan Indonesia adalah 6 jam dimana Indonesia lebih cepat 6 jam. Ketika penulis mencoba menelpon keluarga jam 6 sore, itu berarti jam 12 malam di Indonesia. Di lain kesempatan, penulis akan menuliskan cerita lain seputar perjalanan membuktikan bumi itu bulat yang terinspirasi oleh Sang Jenderal. Terima kasih untuk inspirasi yang diberikan oleh Sang Jenderal.
Ini adalah salah satu sisi positif dari apa yang tersedian secara online di internet yang bisa kita manfaatkan, masih banyak informasi seputar konferensi serta pertukaran pelajar, baik melalui website, blog ataupun juga informasi yang di posting di jaringan sosial network.
Berikut adalah beberapa photo seputar perjalanan selama 4 minggu di Benua Eropa yang penulis abadikan.
-
-
What if Earth was Flat?
-
-
Yangki in Indonesian Booth during COP15, Copenhagen, Denmark.
-
-
Left-Right: Moussa (Kenya), Lina Li (China) she is the vocal point of YOUNGO and Yangki (Indonesia)
-
-
L-R: Kevin from SustainUS (USA) and Yangki from Indonesia
-
-
This is One Tonne of CO2
-
-
I Love Copenhagen
-
-
Interview with Secretary of Bahia Province, Brazil
-
-
First Snow in Hellerup, Copenhagen
-
-
Malmö: Snowman with Iben and Kak Devin
-
-
In front of Bradenburger Tor, the Symbol of Berlin.
-
-
A cup of hot chocolate and muffin: Malmö
-
-
Kereta dari Malmö menuju Kopenhagen
-
-
Salju yang masih segar: Malmö
-
-
Sudut Kota Berlin
-
-
Potzdamer Platz, Berlin
-
-
Rumah Jawa, Berlin
-
-
Penjual Pizza, Zoologischer Garten, Berlin
-
-
In front of Rektor office, Warsaw
-
-
East part of Warsaw, Poland
-
-
Financial District, Warsaw
-
-
In front of Presidential Palace, Warsaw
-
-
L-R: Karolina and me
-
-
Welcome to Warsaw
-
-
The Warsaw Mermaid
-
-
Waldek & Karolina
-
-
The Secrets, Karolina got it
-
-
Salju di kota Warsaw
-
-
White Warszawie
-
-
Coat of Arm Poland
-
-
The Tallest Christmast Tree in Warsaw
-
-
The Warsaw Mermaid in the Night
-
-
Marc Thevis Lonely Planet Collection, Warsaw
-
-
Breakfast menu in Malmö
Recent Comments